Kupikir aku akan bisa menjamah rembulan di atas awan
Nyatanya hanya kabut yang dapat kusentuh
Sesekali ingin kuulurkan lagi panjang tanganku sembari memunajatkan harapan
Nyatanya hanya asa saja yang lari tergesa
Biar kutatap saja dari sini
Tempatku duduk sambil termangu
Sebab setiap kali ingin kusentuh hanya menjelma bayangan
Yang terapung di atas genangan air yang kian mengeruh
Berjalan menjauh bersama arus deras di gelap malam yang gemuruh
By : a. khalily
RS Jantung Harapan Kita
26/01/07
Sajadah Panjang
ini adalah tempat istirahat sejenak setelah hari panjang yang kita lalui, sembari memusatkan pikiran dan berpikir untuk menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi
Selasa, 11 Januari 2011
Selaksa Embun
Seperti embun di tepi pagi
Aku pun menepi di puncak-puncak dedaunanmu
Tertimpa cahaya lalu terempas jatuh dan malu
Pada bening kilauku yang mengalir hanyalah musim,
rinai gerimis, hujan dan cahaya kasih
Lama kutelusuri setapak rimbun gelapmu
Dan aku makin tersesat dalam semak ragu hingga aku terdampar di ladang anganmu
mengharap tumbuh tapi tak satu pun kembang rasaku yang mekar
pada ujung dahanmu yang tunas
Aku menjelma sungai
beriak alirkan harapan bagi mereka
Yang bersenang dalam ketenangan batin dan rasa
Sekali waktu aku merubah menjadi rembulan
tuk selami sudut hatimu yang paling dalam
By : a. khalily
Ciputat, 4 September, 07
Aku pun menepi di puncak-puncak dedaunanmu
Tertimpa cahaya lalu terempas jatuh dan malu
Pada bening kilauku yang mengalir hanyalah musim,
rinai gerimis, hujan dan cahaya kasih
Lama kutelusuri setapak rimbun gelapmu
Dan aku makin tersesat dalam semak ragu hingga aku terdampar di ladang anganmu
mengharap tumbuh tapi tak satu pun kembang rasaku yang mekar
pada ujung dahanmu yang tunas
Aku menjelma sungai
beriak alirkan harapan bagi mereka
Yang bersenang dalam ketenangan batin dan rasa
Sekali waktu aku merubah menjadi rembulan
tuk selami sudut hatimu yang paling dalam
By : a. khalily
Ciputat, 4 September, 07
| Reaksi: |
Selasa, 28 Desember 2010
Pesan yang Kau Lupa
Karena cintaku padamu, biar kutulis lagi dengan huruf-huruf kapital
pesan yang kau lupa
Biar tak ada lagi alasan tuk melenakannya apalagi sekadar tak sempat membaca
Sengaja kutulis dengan huruf-huruf kapital biar pesan dapat menjelma kata dengan makna yang utuh apa adanya
Sengaja kugores dengan tangan yang lebih bertenaga agar sekali baca dapat kau rasa betapa tajam makna yang harus kau cerna bahwa selagi hidup kau tak bisa lupa menghirup udara, meski hanya sesaat sebelum kau kembali menghembuskannya, bahkan sebelum sempat kau sadari siapa yang mendatangkannya dan dalam sekejap menjelma nyawa dan jiwa yang selalu kau bawa entah kemana
Sengaja kutoreh pesan dengan huruf yang lebih tebal agar lebih mudah kau cerna bahwa selayaknyalah sekali hirup dua tiga ingatan segera menyala; ada Tuhan selalu di sana
Yang tidak semestinya mudah kau lupa, apalagi di saat kau sendiri sedang duduk bersimpuh di depan mihrab-Nya dengan jalan pikiran yang terus kau biarkan mengembara
Sengaja kutulis apa adanya agar kau selalu terjaga dari ingatan saat pertama kau keluar dari rahim ibunda
Di sanalah seharusnya, kau ingat akan segala bahwa dulu kau tak bisa apa-apa
Tak juga membawa apa-apa, tak akan pula membawa apa-apa
Kelak jika waktu yang ditentukan telah tiba, kau tak akan bisa menunda atau memajukan kedatangannya
Sekali saja dan putuslah sudah urusanmu dengan segalanya
Apapun juga yang menyebabkanmu melupakan segala pesan-Nya
by : a kholily
ciputat, 28 desember 2010
pesan yang kau lupa
Biar tak ada lagi alasan tuk melenakannya apalagi sekadar tak sempat membaca
Sengaja kutulis dengan huruf-huruf kapital biar pesan dapat menjelma kata dengan makna yang utuh apa adanya
Sengaja kugores dengan tangan yang lebih bertenaga agar sekali baca dapat kau rasa betapa tajam makna yang harus kau cerna bahwa selagi hidup kau tak bisa lupa menghirup udara, meski hanya sesaat sebelum kau kembali menghembuskannya, bahkan sebelum sempat kau sadari siapa yang mendatangkannya dan dalam sekejap menjelma nyawa dan jiwa yang selalu kau bawa entah kemana
Sengaja kutoreh pesan dengan huruf yang lebih tebal agar lebih mudah kau cerna bahwa selayaknyalah sekali hirup dua tiga ingatan segera menyala; ada Tuhan selalu di sana
Yang tidak semestinya mudah kau lupa, apalagi di saat kau sendiri sedang duduk bersimpuh di depan mihrab-Nya dengan jalan pikiran yang terus kau biarkan mengembara
Sengaja kutulis apa adanya agar kau selalu terjaga dari ingatan saat pertama kau keluar dari rahim ibunda
Di sanalah seharusnya, kau ingat akan segala bahwa dulu kau tak bisa apa-apa
Tak juga membawa apa-apa, tak akan pula membawa apa-apa
Kelak jika waktu yang ditentukan telah tiba, kau tak akan bisa menunda atau memajukan kedatangannya
Sekali saja dan putuslah sudah urusanmu dengan segalanya
Apapun juga yang menyebabkanmu melupakan segala pesan-Nya
by : a kholily
ciputat, 28 desember 2010
| Reaksi: |
Senin, 27 Desember 2010
Nyanyian Kelana
Prolog
Indonesiaku yang kuimpikan
Indonesiaku yang hanya di dalam angan
Ibunya menggadang-gadang agar kelak setelah besar dan dewasa bisa menjadi lelaki tangguh dan menjunjung tinggi prinsip kejujuran dalam bersikap. Harapan ibunya ini bisa dimaklumi karena ia adalah anak lelaki terakhir yang dilahirkannya.
Wajar saja bila Sang Ibu memiliki harapan seperti itu, karena setelah lima kelahiran anaknya – satu diantaranya meninggal—tujuh kali kelahiran berikutnya, hanya dialah satu-satunya yang tersisa, selamat. Tak perlu ada interpretasi lebih jauh, jika ibunya memanggilnya dengan sebutan Anak Lanang. Semata-mata sebagai sebuah harapan, agar kelak bisa menjadi laki-laki sejati yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Teman-temannya memanggilnya Lana atau kadang malah hanya Kel saja. Karena lebih mudah ketimbang harus menyebut nama panjangnya, Kelana Nurfajar Nusantara. Sebuah nama yang kadang justru membuatnya merasa tidak nyaman. Tetapi, kadang ia bersyukur, menyadari ayahnya memberi nama yang cukup aneh didengar, setidaknya tidak membuatnya merasa malu saat berkenalan dengan teman baru.
Tak usah berpanjang lebar menjelaskan mengapa ayahnya memberi nama demikian. Seperti anak-anak yang terlahir di sebuah kampung pedalaman, ayahnya juga memimpikan, agar anaknya kelak menjadi orang yang berguna, entah apa wujudnya. Karena, jangankan untuk bercita-cita menjadi apa, sedang bermimpi saja, sangat berat dirasa.
Tapi nyatanya, ia bukanlah anak yang lemah. Kegelisahan dan keresahannya justru membuatnya semakin kuat melawan ketakberdayaan. Kemelaratan dan keterjepitan yang dialami keluarganya justru memacu andrenalinnya untuk terus bangkit. Berdiri di atas kakinya sendiri, sepenuhnya ingin hidup mandiri. Bukan karena permintaan orang lain, tapi karena kesadaran diri. Tubuhnya yang kuat dan kokoh, agaknya sepadan dengan harapan ayahnya saat memberinya nama Kelana Nurfajar Nusantara.
Waktu-waktu dirinya tak dibiarkan berlalu tanpa makna. Merenung dan menyendiri, meski tak ingin dilakukannya, faktanya telah menjadi bagian dan satu-satunya cara untuk menghibur diri. Kendati menyadari keberadaannya saat menyepi, itu kadang membuatnya larut dalam suasana sunyi, dan menyeretnya terlalu dalam pada sosok inferioritas dirinya. Tapi pada sisi yang lain, dengan begitu, ia justeru merasakan adanya kehangatan lain, sebuah kehadiran yang tidak biasa, kasih sayang Tuhan. Karenanya, bagi Kelana, jika faktanya justru membantunya menemukan jatidiri dan membuatnya jadi kuat melawan ketakberdayaan hidup yang mesti ditanggung, menyendiri bukanlah suatu aib.
Kepada siapa ia harus meminta, sedang ayahnya telah tiada, justru saat ia baru masuk usia sekolah dasar. Tak terbayang bagaimana selanjutnya bisa melanjutkan hidup dan memelihara harapan seperti yang dititipkan oleh ayahnya lewat nama yang disandangnya.
Kepada ibunya, ia tahu tak ada lagi yang perlu diminta, selain doa dan restu. Karena faktanya tak ada lagi yang bisa diberikan. Lagi pula, bukankah justru doa dan restu itulah sejatinya segala-galanya pemberian ibu, pengejawantahan dari kasih dan sayang. Meski untuk mengerti apa maknanya doa dan restu ibu, kadang tak mudah baginya. Namun pada saat-saat tertentu, rasanya tak ada yang membuatnya senang selain bisa melihat ibunya tersenyum dan tak lagi berlinang air mata. Faktanya memang begitulah adanya.
***
Hari itu, malam ganjil di akhir bulan Ramadhan. Dalam kesendirian yang sedih, pilu serta tubuh yang telah letih, setelah segala usaha menenangkan diri tak berhasil ia lakukan. Di atas loteng, di bawah lengkung kubah masjid Takwa, Metro, dalam hamparan sajadah tempatnya menengadah dan memunajatkan doa dan harapan, seberkas sinar terang, putih, tiba-tiba datang menghujam menyelusup masuk ke dalam dada. Lalu menjalar ke seluruh tubuh. Memberikan sensasi dan getaran lembut yang tak dapat ia lawan.
Tubuh yang sudah lelah, menderas dan mentadaruskan asma Tuhan, itu pun terguncang hebat. Bergetar kuat dan membuatnya seperti menggigil terserang demam. Dalam moment sesaat, itu seolah dunia membeku dalam keheningan. Angin berhenti mendesau. Sejenak, ia tercekam. Dalam kepasrahan bulat dan total, itulah ia merasakan kehangatan belaian Tuhan yang Maha Lembut menyentuh tubuh fana miliknya. Menjelma dalam kilatan cahaya putih berkilau. Sejenak ia membeku, hampa dalam sebuah ruang yang entah.
“Ini aku milik-Mu, ya Allah. Ambillah, jikalau waktunya sudah tiba,” bibirnya tak mampu bergerak, hanya bathin dan jiwanya saja yang bergetar melafadzkan kepasrahan antara tak sadar dan terjaga dirinya.
Dalam doa, itu seolah bulan datang berkilatan bagai seribu bintang berkedip-kerlip, hinggap di atas pucuk kubah masjid dan meluruh dalam sejuk menghujam jatuh di jantung kegelapan perasaan dan pikiran. Lalu, dalam sekerjap mata, terlihat berkas cahaya bulan, itu memetakan sebuah jalan pilihan, dari sebuah imajinasi yang masih samar. Kejang dan getar tubuh yang dirasakan tak tertahankan, itu pun mereda. Menjelma damai dalam sejuk air yang membasuh seluruh tubuh dari panas terik matahari di padang syahara. Dalam sensasi itu, ia merasakan kenikmatan luar biasa, dari ujung kepala turun meluruh ke ujung jemari kaki. Tubuh pun bermandikan keringat. Tak terasa air mata menggenang di pelupuk, berlinangan tetapi disusul kemudian semesta bahagia. Tiba-tiba ia merindu, tiba-tiba ia serasa nyandu.
“Kapan ya Allah, malam-malam indah-Mu kembali datang bermandikan cahaya.”
Usai mendapatkan sensasi, itu Kelana tak dapat segera beranjak pergi. Duduk seorang diri, tertegun di atas loteng, tepat di bawah lengkung kubah Masjid. Sementara, di bawah, terlihat para jemaah sedang asyik masyuk, khusuk dalam zikir dan doa. Air mata terus saja meluruh. Ada kedamaian yang tak terlukiskan di sana. Hingga untuk waktu yang lama, ia tetap dalam tegun dan kagum penuh rasa bahagia. Di sana tersimpan sebuah rahasia yang menyelinap masuk dan menjelma tanda tanya.
“Inikah jalan pilihan, dari sekian imajinasi yang datang silih berganti?”
Malam itu, Kelana tak ingin beranjak, terduduk haru di bawah lengkung kubah Masjid. Jantungnya sudah tak lagi berdegup kencang. Hanya matanya yang tak dapat terpejam, memandang – nerawang – seisi penjuru kota yang telah terlelap di ujung malam.
***
Indonesiaku yang kuimpikan
Indonesiaku yang hanya di dalam angan
Ibunya menggadang-gadang agar kelak setelah besar dan dewasa bisa menjadi lelaki tangguh dan menjunjung tinggi prinsip kejujuran dalam bersikap. Harapan ibunya ini bisa dimaklumi karena ia adalah anak lelaki terakhir yang dilahirkannya.
Wajar saja bila Sang Ibu memiliki harapan seperti itu, karena setelah lima kelahiran anaknya – satu diantaranya meninggal—tujuh kali kelahiran berikutnya, hanya dialah satu-satunya yang tersisa, selamat. Tak perlu ada interpretasi lebih jauh, jika ibunya memanggilnya dengan sebutan Anak Lanang. Semata-mata sebagai sebuah harapan, agar kelak bisa menjadi laki-laki sejati yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Teman-temannya memanggilnya Lana atau kadang malah hanya Kel saja. Karena lebih mudah ketimbang harus menyebut nama panjangnya, Kelana Nurfajar Nusantara. Sebuah nama yang kadang justru membuatnya merasa tidak nyaman. Tetapi, kadang ia bersyukur, menyadari ayahnya memberi nama yang cukup aneh didengar, setidaknya tidak membuatnya merasa malu saat berkenalan dengan teman baru.
Tak usah berpanjang lebar menjelaskan mengapa ayahnya memberi nama demikian. Seperti anak-anak yang terlahir di sebuah kampung pedalaman, ayahnya juga memimpikan, agar anaknya kelak menjadi orang yang berguna, entah apa wujudnya. Karena, jangankan untuk bercita-cita menjadi apa, sedang bermimpi saja, sangat berat dirasa.
Tapi nyatanya, ia bukanlah anak yang lemah. Kegelisahan dan keresahannya justru membuatnya semakin kuat melawan ketakberdayaan. Kemelaratan dan keterjepitan yang dialami keluarganya justru memacu andrenalinnya untuk terus bangkit. Berdiri di atas kakinya sendiri, sepenuhnya ingin hidup mandiri. Bukan karena permintaan orang lain, tapi karena kesadaran diri. Tubuhnya yang kuat dan kokoh, agaknya sepadan dengan harapan ayahnya saat memberinya nama Kelana Nurfajar Nusantara.
Waktu-waktu dirinya tak dibiarkan berlalu tanpa makna. Merenung dan menyendiri, meski tak ingin dilakukannya, faktanya telah menjadi bagian dan satu-satunya cara untuk menghibur diri. Kendati menyadari keberadaannya saat menyepi, itu kadang membuatnya larut dalam suasana sunyi, dan menyeretnya terlalu dalam pada sosok inferioritas dirinya. Tapi pada sisi yang lain, dengan begitu, ia justeru merasakan adanya kehangatan lain, sebuah kehadiran yang tidak biasa, kasih sayang Tuhan. Karenanya, bagi Kelana, jika faktanya justru membantunya menemukan jatidiri dan membuatnya jadi kuat melawan ketakberdayaan hidup yang mesti ditanggung, menyendiri bukanlah suatu aib.
Kepada siapa ia harus meminta, sedang ayahnya telah tiada, justru saat ia baru masuk usia sekolah dasar. Tak terbayang bagaimana selanjutnya bisa melanjutkan hidup dan memelihara harapan seperti yang dititipkan oleh ayahnya lewat nama yang disandangnya.
Kepada ibunya, ia tahu tak ada lagi yang perlu diminta, selain doa dan restu. Karena faktanya tak ada lagi yang bisa diberikan. Lagi pula, bukankah justru doa dan restu itulah sejatinya segala-galanya pemberian ibu, pengejawantahan dari kasih dan sayang. Meski untuk mengerti apa maknanya doa dan restu ibu, kadang tak mudah baginya. Namun pada saat-saat tertentu, rasanya tak ada yang membuatnya senang selain bisa melihat ibunya tersenyum dan tak lagi berlinang air mata. Faktanya memang begitulah adanya.
***
Hari itu, malam ganjil di akhir bulan Ramadhan. Dalam kesendirian yang sedih, pilu serta tubuh yang telah letih, setelah segala usaha menenangkan diri tak berhasil ia lakukan. Di atas loteng, di bawah lengkung kubah masjid Takwa, Metro, dalam hamparan sajadah tempatnya menengadah dan memunajatkan doa dan harapan, seberkas sinar terang, putih, tiba-tiba datang menghujam menyelusup masuk ke dalam dada. Lalu menjalar ke seluruh tubuh. Memberikan sensasi dan getaran lembut yang tak dapat ia lawan.
Tubuh yang sudah lelah, menderas dan mentadaruskan asma Tuhan, itu pun terguncang hebat. Bergetar kuat dan membuatnya seperti menggigil terserang demam. Dalam moment sesaat, itu seolah dunia membeku dalam keheningan. Angin berhenti mendesau. Sejenak, ia tercekam. Dalam kepasrahan bulat dan total, itulah ia merasakan kehangatan belaian Tuhan yang Maha Lembut menyentuh tubuh fana miliknya. Menjelma dalam kilatan cahaya putih berkilau. Sejenak ia membeku, hampa dalam sebuah ruang yang entah.
“Ini aku milik-Mu, ya Allah. Ambillah, jikalau waktunya sudah tiba,” bibirnya tak mampu bergerak, hanya bathin dan jiwanya saja yang bergetar melafadzkan kepasrahan antara tak sadar dan terjaga dirinya.
Dalam doa, itu seolah bulan datang berkilatan bagai seribu bintang berkedip-kerlip, hinggap di atas pucuk kubah masjid dan meluruh dalam sejuk menghujam jatuh di jantung kegelapan perasaan dan pikiran. Lalu, dalam sekerjap mata, terlihat berkas cahaya bulan, itu memetakan sebuah jalan pilihan, dari sebuah imajinasi yang masih samar. Kejang dan getar tubuh yang dirasakan tak tertahankan, itu pun mereda. Menjelma damai dalam sejuk air yang membasuh seluruh tubuh dari panas terik matahari di padang syahara. Dalam sensasi itu, ia merasakan kenikmatan luar biasa, dari ujung kepala turun meluruh ke ujung jemari kaki. Tubuh pun bermandikan keringat. Tak terasa air mata menggenang di pelupuk, berlinangan tetapi disusul kemudian semesta bahagia. Tiba-tiba ia merindu, tiba-tiba ia serasa nyandu.
“Kapan ya Allah, malam-malam indah-Mu kembali datang bermandikan cahaya.”
Usai mendapatkan sensasi, itu Kelana tak dapat segera beranjak pergi. Duduk seorang diri, tertegun di atas loteng, tepat di bawah lengkung kubah Masjid. Sementara, di bawah, terlihat para jemaah sedang asyik masyuk, khusuk dalam zikir dan doa. Air mata terus saja meluruh. Ada kedamaian yang tak terlukiskan di sana. Hingga untuk waktu yang lama, ia tetap dalam tegun dan kagum penuh rasa bahagia. Di sana tersimpan sebuah rahasia yang menyelinap masuk dan menjelma tanda tanya.
“Inikah jalan pilihan, dari sekian imajinasi yang datang silih berganti?”
Malam itu, Kelana tak ingin beranjak, terduduk haru di bawah lengkung kubah Masjid. Jantungnya sudah tak lagi berdegup kencang. Hanya matanya yang tak dapat terpejam, memandang – nerawang – seisi penjuru kota yang telah terlelap di ujung malam.
***
| Reaksi: |
Jumat, 27 Agustus 2010
Hari Raya di Hari Jumat
![]() |
| Imam Syafi'i : Penduduk kota tetap wajib salat Jumat |
(NUOnline.com) -Sebetulnya tidak ada pembahasan khusus terkait hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, yang jatuh pada hari Jum’at. Hari raya adalah satu hal, dan hari Jum’at adalah hal lain. Akan tetapi ketika kita membicarakan seorang yang rumahnya sangat jauh dari masjid, apakah ia harus kembali lagi untuk menunaikan shalat Jum’at setelah di pagi harinya ia telah menunaikan shalat hari raya?
Seperti di zaman awal Islam, ada sahabat yang jarak rumahnya dengan Madinah sejauh 4 km, bahkan lebih dari itu, dan harus ditempuh melewati padang pasir dan ditempuh dengan jalan kaki. Apakah ia harus kembali lagi ke Madinah tanpa kendaraan untuk menunaikan shalat Jum’at? Kalaulah ia harus kembali menempuh perjalanan dari rumah ke masjid dan sebaliknya, sungguh melelahkan. Pertanyaan berikutnya apakah Islam tidak memberikan solusi?
Di sinilah kemudian timbul perbedaan pendapat. Pendapat pertama mengatakan, tidak perlu kembali ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Shalat Jum’atnya dapat dikerjakan di rumah dan menggantinya dengan shalat Dzuhur. Ini termasuk rukhshah atau keringanan dalam beragama.
Pendapat kedua mengatakan, kasus di Madinah di awal Islam itu bisa dijadikan alasan, tetapi apakah kita di Indonesia benar-benar mengalami nasib seperti itu? Bagi kaum Muslimin di Indonesia yang mayoritas NU, hampir di setiap dusun ada masjid, rata-rata kurang dari 1 km dan tidak melewati padang pasir.
Pendapat kedua inilah yang dipilih sebagian besar orang NU. Karena itu seorang Muslim harus kembali ke masjid untuk mengerjakan shalat Jum’at setelah paginya menunaikan shalat hari raya atau shalat Id.
Meskipun demikian, tidak sedikit yang mengikuti jejak golongan pertama. Dengan mengajukan kasus di Madinah, tidak perlu mengajukan alasan apapun seperti perbedaan geografis dan cuaca suatu negara. Yang jelas rukhshah itu patut disambut.
Imam Syafii seperti dikutip dalam Al-Mizan lis Sya’rani Juz I, mengatakan, jika kebetulan hari raya bertepatan dengan hari Jum’at maka bagi penduduk perkotaan kewajiban menjalankan shalat Jum’at tidak gugur dikarenakan telah menjalankan shalat Id. Lain halnya dengan penduduk desa (yang amat jauh), kewajibannya mengerjakan shalat Jum’at gugur, mereka diperbolehkan untuk tidak Jum’atan.
Dalam kitab yang sama disebutkan, pendapat Imam Syafii ini sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sedang Imam Ahmad mengatakan, tidak wajib Jumatan bai penduduk desa maupun kotadan gugurlah kewajiban Jum’atan sebab mereka telah mengerjakan shalat Id, hanya saja mereka tetap wajib mengerjakan shalat dzuhur. Malah menurut Imam Atha’ Jum’atan dan shalat dzhuhurnya gugur sekaligus, dan pada hari itu tidak ada shalat setelah shalat Id kecuali shalat ashar.
Hadits tentang rukhsah ini diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam berikut ini:
قال: صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَصَ فِي الْجُمْعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
Rasulullah menjalankan shalat Id kemudian memberikan rukhshah untuk tidak menjalankan shalat Jum’at, kemudian beliau bersabda," Siapa ingin shalat Jum’at, Silakan!" (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ad-Darami serta Ibnu Khazimah dan Al-Hakim).
KH Munawir Abdul Fattah
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta
(Persoalan ini diulas oleh penulis dalam buku "Tradisi Orang-orang NU")
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta
(Persoalan ini diulas oleh penulis dalam buku "Tradisi Orang-orang NU")
| Reaksi: |
Zakat Pengurang pajak?
![]() |
| Relawan, sosialisasikan pentingnya membayar zakat |
JAKARTA, KOMPAS.com (Jumat, 27/08/2010/Riza Fathoni) - Ketua Tim Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Irfan Syauqi Beik mengatakan, kesejahteraan masyarakat akan meningkat jika zakat menjadi instrumen pengurang pajak.
"Jika kebijakan tersebut dapat dijalankan, maka dampak positifnya akan lebih besar," katanya dalam diskusi bertema "Sharing Informasi Pemberdayaan (SIP): Zakat Untuk Keadilan Sosial", di Jakarta, Jumat (27/8/2010).
Irfan mengatakan, ketika zakat menjadi pengurang pajak maka akan ada insentif dalam meningkatkan zakat sehingga ada proporsi yang pasti dalam pembagian zakat, yaitu kepada kaum dhuafa.
Ia juga berharap, Undang-Undang Pajak dapat dievaluasi agar proses integrasi akan berjalan dan negara akan terlibat lebih dalam lagi di pengelolaannya. "Karena masalahnya saat ini adalah egosektoral yang tinggi. Pajak merasa dimiliki oleh Direktur Jendral Pajak," ungkapnya.
Ia mengatakan, zakat memiliki peran dalam perekonomian, di antaranya sebagai alat redistribusi pendapatan dan kekayaan serta sebagai instrumen pengentasan dan pemberdayaan dhuafa.
Menurut dia, pajak sama sekali tidak ada manfaatnya untuk rakyat sehingga nilai humanisme zakat sangat diperlukan.
Agama lain, katanya, juga boleh mengusulkan dengan tujuan yang sama asalkan memang diperuntukkan untuk rakyat, mau di audit, dan melalui proses politik. Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh "Indonesia Magnificence of Zakat" (IMZ) dengan tujuan untuk memperkenalkan zakat sebagai salah satu cara meningkatkan keadilan sosial.
Ditjen Pajak Tak Setuju Zakat Jadi Pengurang Pajak
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktorat Jenderal Pajak tak sepakat bila aturan zakat mengatur pengurangan pajak. Direktur Jenderal Pajak Mochammad Tjiptardjo beralasan pembayaran zakat sama sekali tak terkait dengan pengurangan pajak.
Tjiptardjo secara tegas mengatakan, zakat merupakan urusan dengan Tuhan (hablun minallah), sedangkan urusan pajak merupakan urusan dengan manusia (hablun minannas). "Urusan kita dengan Tuhan jangan dicampur dengan hablun minannas," katanya, Jumat (27/8/2010).
Seperti diketahui, Forum Zakat Nasional telah mengajukan revisi Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat kepada DPR. Forum itu mengusulkan, pemberian zakat menjadi pengurang pajak penghasilan wajib pajak.
"Ketika diterapkan bahwa zakat bisa mengurangi pajak, ternyata sangat berpengaruh terhadap penerimaan zakat dan pajak," ujar Ketua Umum Forum Zakat Nasional Ahmad Juwaini.
Namun, Tjiptardjo menolak usulan itu. Dia keberatan jika pengurangan pajak dari penghasilan bersih setelah dikurangi zakat. "Masak bayar zakat disubsidi orang lain," ucapnya. (Irma Yani/Kontan)***
| Reaksi: |
Inilah Arah Kiblat Itu...
JAKARTA, KOMPAS.com ( JUmat, 27/08/2010/11:31 WIB) - Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghazali Masruri menegaskan, arah kiblat dari Indonesia adalah barat laut, bukan arah barat seperti yang selama ini dipahami khalayak awam."Kiblat bukan di barat, tapi di barat laut. Dari arah barat lurus bergeser sedikit ke utara kira-kira antara 20-25 derajat," kata Kiai Ghazali dalam seminar bertajuk "Kontroversi Arah Kiblat" yang digelar Lembaga Ta`mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) di Jakarta baru-baru ini.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengumumkan temuanya bahwa telah terjadi kekeliruan arah kiblat kaum muslim Indonesia.
Selama ini, kebanyakan kaum muslim Indonesia shalat menghadap Afrika. Namun seiring dengan pergeseran lempeng bumi, maka arah kiblat bagi umat Islam Indonesia bergeser sekitar 140 sentimeter.
Dipandang dari posisi Indonesia, selama ini sebagian kaum muslim Indonesia yang melaksanakan shalat beranggapan Ka’bah terletak di sebelah Barat Laut.
Namun, menurut sejumlah ahli falaq atau astronomi, arah kiblat dari posisi Indonesia, kini berubah. Perubahan arah kiblat diangkat dalam acara Semiloka Nasional Kementerian Agama di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Mantan Menteri Agama, Tolchah Hasan, menyebutkan bahwa perubahan itu terjadi lantaran adanya pergeseran lempeng bumi.
Pendapat tersebut sejalan dengan fatwa MUI Nomor 3 tahun 2010. Menurut MUI, arah kiblat dari posisi Indonesia telah terjadi kesalahan. Karena itu MUI mengimbau, kaum muslimin agar segera menyesuaikan arah kiblatnya.
Secara sederhana penyesuaian arah kiblat dapat dilakukan dengan melihat bayang-bayang matahari pada waktu tertentu atau rashdul kiblat.
Rashdul kiblat itu setiap 28 Mei pukul 16.18 WIB atau setiap 16 Juli pukul 16.27 WIB. Pada saat itu, semua benda tegak lurus adalah arah kiblat.
Walaupun pada dasarnya rashdul kiblat dapat dihitung dalam setiap harinya dengan mengetahui deklinasi matahari. Hanya saja penetapan dua hari rashdul kiblat tersebut adalah atas pertimbangan matahari benar-benar di atas Ka'bah.
Ghazali juga sependapat bahwa pada medio Juli itu merupakan saat yang tepat untuk meluruskan arah kiblat. Berdasar data hisab LFNU, pada pukul 16.26 WIB matahari akan tepat berada di atas Ka`bah.
Hal itu akan membantu umat Islam dalam meluruskan arah kiblat dengan cara yang sederhana, karena saat matahari tepat di atas Ka`bah segala sesuatu yang berdiri tegak bayangannya menuju kiblat.
"Harap kaum muslimin dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk mengukur arah kiblat di rumah masing-masing, mushala dan masjid setempat," katanya.
Untuk itu, LFNU sendiri mengimbau jajarannya di seluruh Indonesia untuk memelopori Gerakan Peduli Rosydul Qiblat (GPRQ), gerakan pelurusan arah kiblat, seperti yang pernah dilakukan pada bulan Mei .***
| Reaksi: |
Langgan:
Entri (Atom)

